Follow by sky_wayfarer email

Sunday, 27 November 2011

Bahana Naluri Manusia...

Dikisahkan, seekor kura-kura hidup dengan seekor kala jengking. Keduanya menjadi sangat akrab. Pada suatu hari, terjadi sebuah peristiwa yang mengancam nyawa keduanya. Mereka terpaksa meninggalkan tempat itu. Kura-kura dan kala jengking pergi bersama-sama dan setelah menempuh jalan jauh, mereka sampai di sebuah sungai.

Ketika mata sang kalajengking menatap sungai di depannya, ia hanya diam dan berkata  kepada kawannya, "Tahukah kamu betapa aku sangat tidak beruntung?

Kura-kura dengan penuh kehairanan bertanya, " Kenapa? Ada apa?"

"Aku tidak dapat maju dan tidak dapat mundur. Jika aku maju, aku akan tenggelam di sungai, dan jika aku mundur, maka aku akan terpisah darimu," jawab sang kala jengking.

Mendengar jawapan kawannya itu, kura-kura berkata, "Jangan kau sedih, kita adalah teman, maka kita harus bekerjasam dan saling membantu dalam sedih dan bahagia. Aku dengan mudah dapat melewati sungai. Oleh  itu kau boleh menaiki punggungku dan bersama-sama kita mengharungi sungai ini. Janganlah khuatir kawan!"

Kala jengking berkata, "Semoga Tuhan membalas kebaikanmu wahai teman setiaku. Aku harus  membalas kebaikanmu suatu hari nanti."

Kemudian sang kala jengking menaiki punggung kura-kura dan bersama-sama mereka menyeberangi sungai itu. Namun tidak lama setelah itu, kura-kura merasakan ada sesuatu yang tengah mengorek-ngorek punggungnya.

Dengan rasa ingin tahu, sang kura-kura bertanya, "Ada apa sebenarnya? Gerangan apakah itu?"

Kala jengking menjawab, "Tidak ada yang perlu dikhuatirkan kawan, aku hanya mencari tempat yang tepat agar aku dapat menyengatmu."

Kura-kura sangat terkejut mendengar ucapan kalajengking dan berkata, "Betapa kau adalah makhluk yang sangat kejam dan tak berhati perut! Tatkala aku pertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkanmu, aku persilakan kamu menaiku punggungku sehingga aku dapat menyelamatkanmu. Lantas kau akan menyengatku? Meskipun aku tahu bahawa sengatanmu tidak akan berkesan  padaku. Bukankah kau baru saja berkata tentang persahabatan? Lalu mengapa kau sekarang ingin mencabut nyawaku? Apakah erti pengkhianatan ini?"

Sang kala jengking menjawab, "Aku hairan sekali mendengar perkataanmu. Aku tidak hendak berkhianat padamu atau menginginkan keburukan terjadi padamu. Pada kenyataannya, ini semata-mata adalah naluriku. Api akan membakar segala benda bahkan teman-teman terdekatnya. Naluriku adalah menyengat, namun aku tidak pernah memiliki permusuhan denganmu. Aku adalah temanmu."

"Kau berkata benar. Ini semua adalah salahku, mengapa di antara semua haiwan yang ada, aku memilihmu sebagai temanku. Sebesar apapun aku berbuat baik kepadamu, kau tidak dapat melupakan nalurimu. Aku tidak ingin bersamamu. Kini aku sadar, lebih baik aku sendiri daripada berteman denganmu."

Setelah mengatakan sedemikian, kura-kura pun menyelam ke dalam sungai dan melanjutkan perjalanannya.

Sungguh x disangka,hal sedemikian akan terjadi.Namun apakan daya,naluri yg dianugerahkan adalah pemberian Allah.Segala pemberian Nya adalah berhikmah.

Bagaimana pula jika situasi di atas ditafsirkan dalam tatacara pergaulan antara manusia.Pernah x dengar Prasa "Kawan Makan Kawan"...beginilah situasinya...Harus difahami teman2 musafir sekalian,naluri manusia sukar dijangka.Jika berkesempatan maka sesiapapun x akan lepaskan peluang.Apakah kesempatan dalanm berkawan??Apakah kesempatan dalam berhubungan??Selain itu,bagaimana pula hubungan negara antara negara??

Namun perlu diingatkan,naluri adalah kadang2 betul dan kadang2 salah.Sebab itulah dijadikan Iman sbg pelindung bahkan benteng gerak hati manusia.

Jika kita bingung-sentiasalah 'download' doa agar ditenangkan hati...

P/s: Driwyatkan oleh Ibnu Umar :"bahawa Rasulullah SAW pernah menemui seseorang Ansar yg sdg menasihati saudaranya agar jgn memiliki sifat malu.Baginda pun lalu bersabda kepada yg menasihatinya itu:Biarkan dia memiliki sifat malu kerana malu itu sebahagian daripada iman."

Riwayat Al-Bukhari dan Muslim  

sumber asal radio indonesia...semoga dijadikan pengajaran

No comments:

Post a Comment